Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Ngerebong, "Pesta Rakyat" Desa Kesiman Sejak 1937

Bali Tribune / NGEROBONG - Tari Tanda pada perayaan Tradisi Ngerebong, Desa Adat Kesiman, Denpasar.

balitribune.co.id | Denpasar - Ngerebong adalah sebuah tradisi unik yang telah ada sejak tahun 1937. Dirayakan setiap 6 bulan atau tepat pada Redite Pon Wuku Medangsia yang kali ini jatuh pada Minggu (26/6/22). Tradisi ini berpusat di Pura Petilan, Desa Adat Kesiman, Denpasar.

Budayawan dan Tokoh Desa Kesiman, I Gede Anom Ranuara (53), secara detail menjelaskan ada beberapa pengertian tentang Ngerebong. Pertama yaitu ditinjau dari ilmu semiotika, terdapat satu kisah kesatriaan yang dipakai acuan tradisi Ngrebong, yaitu ekspansi pemimpin Kesiman ke daerah Sasak.

Dalam kisah tersebut, sebelum memulai ekspansinya, beliau memohon anugrah di Uluwatu. Di sana konon beliau mendapat sabda Bhatara Uluwatu, "bani sing ngereh lemah?".

Bisa dikonotasikan menjadi, "ngereh" sebagai suatu prosesi ritual magis, dalam kamus Basa Bali, ngereh itu berarti memerintah, sedangkan lemah berarti tanah. Maka dapat disimpulkan yang dimaksud dengan "ngereh lemah" itu adalah ketika raja ingin melakukan ekspansi ke Sasak, menjadi "pecut" untuk dirinya apakah sudah berani menjadi seorang pemimpin di Kesiman.

Sedangkan kata "bong" sendiri berasal dari kata "baung", penyatuan vokal a dan u menjadi bong. Vokal a itu melambangkan "akasa" dan u melambangkan "pertiwi". Maka dengan kata lain, Ngerebong ini merupakan prosesi penyatuan akasa dan pertiwi.

Pengertian ngerebong selanjutnya yaitu ditinjau dari teori seni karawitan pedalangan. Dalam seni tersebut ada yang disebut dengan "rebong", itu adalah ketika munculnya wayang-wayang pada pertujukan wayang Bali, bagian gending yang mengiringi itu disebut rebong yang bisa diartikan "mesolah" atau menari. Mesolah itu berasal dari kata masa ulah atau bergerak melakukan aktifitas, tercermin dari tradisi ngerebong ini yaitu adanya aktifitas mengelilingi panggung.

Dalam panggung tersebut ada namanya "guling penyugjug" yaitu anak babi yang belum dikebiri. Karena belum dikebiri maka palusnya masih ada, palus itu sama dengan purus, purus sama dengan poros. Poros itu merupakan simbol lingga, ini juga bertolak pada teori perputaran bumi pada porosnya (rotasi).

Ngerebong juga dapat diartikan "ngerebuang" atau berarti menetralisir. Sebagai ikon dalam menetralisir adalah kain Poleng Sudamala Kesiman (cepuk pepetet), yang motifnya hitam putih mengikuti zebra cross (bukan kotak-kotak). Sudamala yang berasal dari kata Suda berarti terang (putih) dan mala berarti gelap (hitam). Ketika "terang dan gelap" ini bergerak seimbang dengan sistem, maka inilah "somia" kesejahteraan atau keharmonisan.

Jika dilihat dari strukturnya, Pura Petilan bukan menjadi Pura fungsional melainkan menjadi sentral. Itu sebabnya tidak ada istilah "odalan" di Pura ini. Tradisi Ngerebong ini adalah "ngilen" atau prosesi, yang sesungguhnya terdiri dari tiga rangkaian yakni Ngerebeg yang dilaksanakan pada Umanis Galungan, dilanjutkan dengan Pamendakan Agung pada Paing Kuningan, dan terakhir adalah Ngerebong.

Ngerebeg berarti menguasai suatu wilayah, yang identik dengan peperangan, erat kaitannya dengan ekspansi yang dikisahkan sebelumnya. Kemudian Pamendakan Agung itu berkaitan dengan upaya pemimpin Kesiman dalam memohon anugrah di Pura Uluwatu. Terakhir yaitu Ngerebong, atas keberhasilan ekspansi yang dilakukan Kesiman.

"Bisa diistilahkan sebagai pesta rakyatnya Kesiman, makanya Ngerebong ini disebut juga Galungan Kesiman atau peringatan kesejahteraan akhir tahun," imbuh Anom.

Ia menegaskan bahwa Ngerebong menjadi edukasi spirit sosial. Dimana merupakan kejelian penguasa Kesiman pada zaman itu untuk menyatukan seluruh masyarakat se-distrik Kesiman (jauh lebih luas dari Kesiman sekarang), dimana itu mencakup wilayah Ubung hingga Pecatu (sekarang) dengan berbagai latar dan strata sosial.

Prosesi dilakukan sejak pagi, yaitu upacara Tabuh Rah bertujuan untuk membangkitkan guna rajah untuk di-somia atau diharmoniskan, agar patuh dengan arahan guna sattwam. Dengan demikian guna rajah menjadi bersifat positif, memberi semangat untuk kuat menghadapi berbagai gejolak kehidupan. 

Selanjutnya para manca dan prasanak pengerob Pura Petilan Kesiman dengan pelawatan Barong dan Rangda semuanya diusung ke Pura Petilan untuk mengikuti upacara Pangerebongan. Sebelum ke Pura Petilan didahului dengan upacara penyucian di Pura Musen di sebelah Timur Pura Petilan di pinggir barat Sungai Ayung. Selanjutnya, setelah kembali ke pura barulah upacara Pangerebongan dimulai. 

Puncak perayaan Ngerebong diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci Bhatara-Bhatari agar turun melalui pradasar-Nya dari para manca dan prasanak pangerob.

Umumnya para pengusung rangda dan pepatihnya setelah dilakukan upacara Nyanjan dan Nuwur itu dalam keadaan trance (karauhan). Selanjutnya semua pelawatan Barong dan Rangda serta para pepatih yang trance itu keluar dari Kori Agung, terus mengelilingi panggung dengan cara "prasawia" tiga kali.

Prasawia adalah aktifitas dimana seluruh pelawatan Barong dan Rangda serta pepatihnya bergerak menglilingi panggung dari Timur ke Utara, menuju ke Barat, ke Selatan dan kembali ke Timur, terus demikian sampai tiga putaran. 

Saat melakukan prasawia itu, para pepatih melakukan "ngunying" atau ngurek dengan keris tajam. Jika prosesi prasawia selesai, semuanya kembali ke Gedong Agung dengan upacara Pengeluwuran. Mereka yang trance pun kembali seperti semula.

Setelah upacara Pangeluwuran, maka dilanjutkan dengan upacara Maider Bhuwana. Bhatara-Bhatari, para Manca dan Prasanak Pangerob dengan semua pengiringnya kembali mengelilingi panggung tiga kali dengan cara "pradaksina". Pada proses ini seluruh iringan tadi bergerak kembali mengelilingi wantilan dengan arah yang berlawanan dengan prasawia.

Pradaksina ini dilakukan tiga kali sebagai simbol pendakian hidup dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi menuju Swah Loka, yaitu alam kedewatan. Karena itulah upacara ini disebut upacara Maider Bhuwana mengelilingi alam semesta. Setelah proses pradaksina selesai, semuanya kembali ke jeroan Pura.

Adanya prosesi Prasawia dan Pradaksina dalam upacara Pengerebongan di Pura Petilan Kesiman ini sangat menarik untuk dipahami makna filosofinya. Prosesi Prasawia bermakna untuk meredam aspek Asuri Sampad atau kecenderungan keraksasaan, sedangkan Pradaksina sebagai simbol untuk menguatkan Dewi Sampad, yaitu kecenderungan sifat-sifat kedewaan.

Kalau kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad) berada di bawah kekuasaan Dewi Sampad, maka manusia akan menampilkan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupan kesehariannya.

wartawan
M3

Grab Dorong Inklusivitas Lewat Edukasi Bahasa Isyarat dan Rompi Khusus Mitra Tuli

balitribune.co.id | Denpasar - Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Grab Indonesia kembali menghadirkan semangat “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh” melalui rangkaian kegiatan bersama Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, pengguna, dan karyawan internal.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ramadhipa Siap Melesat, Jaga Asa Papan Atas Moto3 Junior Aragon

balitribune.co.id | Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra Honda Motor (AHM), M. Kiandra Ramadhipa, siap menghadapi putaran keenam FIM Moto3 Junior World Championship 2026 di MotorLand Aragón, Spanyol, 25–27 September 2026. Berada di posisi kelima klasemen sementara dengan 80 poin, Ramadhipa bertekad memanfaatkan dua balapan di Aragón untuk terus bersaing di papan atas.

Baca Selengkapnya icon click

Sensatia Gandeng Seven Clean Seas Bersihkan 173 Kg Sampah di Pantai Padang Galak

balitribune.co.id | Denpasar - Sensatia berkolaborasi dengan Seven Clean Seas menyelenggarakan aksi bersih pantai di Pantai Padang Galak, Bali, pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini melibatkan 75 peserta yang terdiri dari masyarakat setempat dan karyawan Sensatia, yang bersama-sama mengumpulkan sekitar 173 kg sampah dari kawasan pesisir tersebut. Sampah yang terkumpul terdiri dari 41 kg sampah organik, 35 kg sampah plastik, dan 97 kg sampah residu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sengketa Tanah Subak Kerdung, Kuasa Hukum Sebut Ada BAP Palsu

balitribune.co.id | Denpasar – Babak baru persidangan sengketa tanah di Subak Kerdung, Pedungan, mengungkap sejumlah fakta di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (24/9/2026). Tim kuasa hukum terdakwa Anak Agung Ngurah Darmawan menilai kasus yang menimpa kliennya merupakan bentuk kriminalisasi yang diwarnai dugaan rekayasa dokumen dan BAP palsu.

Baca Selengkapnya icon click

Keluarga Berintegritas, Rumahku Surgaku

balitribune.co.id | Keluarga berintegritas tengah menjadi impian besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI di dalam upaya mereka memberantas korupsi di tanah air. KPK beranggapan bahwa nilai-nilai antikorupsi perlu tumbuh dan dipraktikkan mulai dari keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat di mana seseorang belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.