Pemohon Paspor Turun, Imigrasi Singaraja Buka Layanan Darurat dan Simpatik | Bali Tribune
Diposting : 25 November 2020 05:41
Chairil Anwar - Bali Tribune
Bali Tribune/ Nanang Mustofa.
Balitribune.co.id | Singaraja - Pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama menurunnya pemohon paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja. Penurunan itu sangat signifikan dan berpotensi menghilangkan pemasukan negara dari sektor Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
 
Berdasarkan data, dari bulan Januari sampai pertengahan bulan November 2020 ini, Imigrasi Kelas II Singaraja telah menerbitkan sebanyak 1.799 paspor. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya,jumlah itu jauh menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019 mencapai dua kali lipat dari tahun 2020 ini. Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa membenarkan adanya penurunan sangat siginifikan terhadap permohonan penerbitan paspor. "Penurunan hingga  60 sampai 70 persen," ucap Nanang Mustofa, Selasa (24/11).
 
Nanang merinci penurunan tersebut dari tahun 2019 hingga 2020.Ada sebanyak 3.815 permohonan paspor ditahun 2019,namun menjelang berakhir tahun 2020 tercatat 1.799 permohonan paspor. "Penyebabnya memang penurunan ini karena pandemi Covid-19," imbuhnya.
 
Pandemi Covid-19,kata Nanang,membuat dunia internasional menutup lalu lintas udaranya termasuk pelarangan terhadap warganya bepergian ke luar negeri.Hal itu,tentu berpengaruh terhadap tingkat kunjungan antar negara dan berimbas kepada permohonan pembuatan paspor. "Beberapa penyebab terjadinya penurunan permohonan pembuatan paspor,akibat adanya pandemi Covid-19 sehingga membuat beberapa penerbangan internasional ditiadakan, selain itu ada kemungkinan beberapa negara memberlakukan larangan bagi WNI  masuk ke negara lain karena sedang lockdown dan sebagainya," kata Nanang.
 
Faktor lain,kata Nanang,adanya ke khawatiran tertular Covid-19 jika melakukan perjalanan keluar negeri. Adanya penurunan tersebut, menurut Nanang,berimbas pada pendapatan negara dari sektor PNBP.Potensi PNBP yang hilang,kata Nanang, dihitung dari rata-rata biaya satu paspor sekitar Rp 350 ribu dan dihitung 60 persen penurunan dari jumlah tahun 2019 sebanyak 3.815 pemohon paspor, diperkirakan pendapatan yang hilang berkisar Rp 600 juta lebih. "Ada pengaruh terhadap PNBP, sekitar 60 persen penurunannya, jadi potensinya kisaran Rp 600 juta-an (kehilangan pendapatan). Ini akan berpengaruh pada anggaran," terangnya.
 
Nanang Mustofa memprediksi kondisi itu akan terus berlangsung selama pandemi Covid-19 belum berakhir. Kendati ada penurunan,Nanang mengaku tetap melakukan layanan dengan maksimal sembari memperketat penerapan protokol kesehatan Covid-19. Bahkan dilakukan inovasi untuk mempermudah masyarakat mendapatkan layanan.Inobasi itu disebut layanan darurat dan simpatik. 
 
"Selama pandemi ini kami juga melakukan pelayanan jemput bola, khusus bagi bayi (balita) dan orang sakit.Ini jika ada kekhawatiran akan terpapar Covid-19. Tinggal hubungi kami dan petugas datang memberikan pelayanan, jika pasport selesai maka kami antar ke rumahnya.Begitu juga hari Sabtu kami tetap buka setengah hari untuk memberi kesempatan maayrakat yang tidak sempat mengurus paspor pada hari kerja," tutup Nanang.