Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Perspektif Bisnis Kaum Milenial

Bali Tribune / Putu Suasta - Alumnus UGM dan Cornell University
balitribune.co.id | Diskusi tentang disrupsi yang disebabkan perkembangan pesat teknologi informasi (TI) sepertinya tidak akan pernah menemui titik akhir, karena disrupsi sudah dan akan terus berlangsung di sekeliling kita. Aktor-aktor utama dalam disrupsi tersebut adalah kaum milenial yakni kelompok umur yang lahir antara 1981-2000. Memahami pola pikir, minat dan cara kerja kelompok umur ini semakin penting untuk sebagai bekal menghadapi disrupsi yang terus melesat dan akan menggilas siapapun yang tak siap menghadapinya.
 
Kaum milenial menempati urutan teratas (50 %) dalam komposisi usia produktif Indonesia saat ini. Di tahun 2030 angkatan kerja diprediksi akan diisi oleh kaum milenial sekitar 75 %. Karena itu kaum milenial saat ini dipandang sebagai early adopter dari model bisnis apapun yang dirancang untuk tumbuh dalam iklim digital. Merekalah pasar terbesar dan mereka jugalah yang akan menjadi orang-orang kaya di tahun 2030. 
 
Model bisnis yang tidak mempertimbangkan preferensi milenial diyakini tidak akan bisa tumbuh dalam iklim serba digital sekarang ini. Sebagai illustrasi, lihatlah sekarang bagaimana selera musik milenial bisa membuat popularitas genre hip-hop melebihi popularitas musik rock yang telah meraja di hampir seluruh dunia sekitar satu abad. Grup-grup lawak yang telah melegenda, sekarang telah kehilangan pamor karena kaum milenial lebih menyukai model stand up comedy daripada lawakan-lawakan gaya srimulat yang dulu begitu kita tunggu-tunggu. 
 
Lebih konkrit lagi, sekarang kita menyaksikan jumlah penonton harian sebuah akun pribadi di youtube bisa mengalahkan jumlah penonton harian sebuah stasiun televisi yang telah mengeluarkan investasi trilyunan Rupiah. Youtuber-youtuber terkenal seperti Atta Halilintar, Deddy Corbuzier, Baim Yong dan beberapa lainnya, bisa meraih penonton lebih dari 1 juta per hari, melebihi pencapaian stasiun televisi yang telah berinvestasi dan mengelola aset triliyunan hanya untuk mengejar 1 juta viewer per hari.
 
Dalam bisnis retail dan jasa kita juga menyaksikan personal-personal bisnis yang terus tumbuh karena teknologi membuat distribusi barang dan jasa lebih simpel yakni dari produsen langsung ke konsumen. Karena itulah perusahan-perusahaan retail raksasa kelimpungan. Travel-travel agen dengan cabang-cabang yang telah menggurita tak mampu bertahan menghadapi gempuran disrupsi. Semua digantikan para pelaku personal bisnis yang berjualan karcis online, berjualan barang online di media sosial atau di market place seperti tokopedia, lazada, buka lapak dan sebagainya.
 
Banyak entitas bisnis telah terlalu gemuk dengan aset menggunung sehingga geraknya menjadi lambat, kalah jauh dengan model bisnis milenial yang ramping sehingga lebih cekatan mensiasati perubahan, dapat menghasilkan produk lebih berkualitas dengan harga lebih murah, disokong jalur distribusi yang ringkas (dari produsen langsung ke konsumen). Inilah alasan mengapa nilai bisnis perusahan-perusahan yang serba online seperti Gojek bisa jauh lebih besar dari perusahaan konvensional yang telah puluhan tahun beroperasi seperti Garuda, Indofood, Mayora dan sebaginya. Sekarang valuasi Gojek setelah 9 tahun beroperasi sekitar Rp. 150 triliun padahal tanpa aset riil yang berarti. Bandingkan dengan Garuda yang mengelola berjibun aset dan telah beroperasi selama 4O tahun, hanya memiliki nilai bisnis di bawah Rp. 40 triliun.
 
Sekarang, perusahaan-perusahaan yang ramping tapi handal dalam pemamfaatan teknologi menjadi pemenang dalam persaingan bisnis. Jumlah karyawan dan besaran aset tidak lagi faktor signifikan kemajuan sebuah perusahaan. Karena itulah sekarang kita menyaksikan banyak Bank mengurangi jumlah karyawan, menutup beberapa kantor cabang dan lebih berfokus pada layanan online. Jika langkah tersebut tidak ditempuh, Bank juga akan kehilangan pasar akibat penetrasi perusahaan-perusahaan berbasis teknologi finansial.
 
Disrupsi akan terus berlangsung dan akan terus menunjukkan ketidakberdayaan perusahaan-perusahaan yang tidak responsif terhadap perubahan zaman. Tidak ada jaminan bahwa perusahaan besar yang telah beroperasi puluhan tahun akan bisa terus memimpin di pasar dan dapat bertahan terhadap disrupsi. Karena itulah kaum milenial lebih suka bekerja di perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi informasi seperti Gojek daripada perusahaan-perusahaan besar yang berkator di gedung pencakar langit dengan aset triliunan sebagaimana dulu diimpikan banyak orang. 
 
Kemampuan menghasilkan produk dengan kualitas jauh lebih baik dengan harga lebih murah akan menjadi kunci kemenangan dalam persaingan bisnis yang dikomando para milenial ini. Perusahaan besar seperti Telkomselpun tak memiliki jaminan tetap eksis dalam bisnis komunikasi jika tidak cepat menemukan strategi untuk meningkatkan kualitas layanan dengan harga lebih murah. Sekarang negara tetangga kita telah mulai mengadopsi teknologi 5G yang menghasilkan jaringan komunikasi lebih stabil dan harga jauh lebih murah. Mungkin tidak lama lagi operator telkomunikasi dari negara tetangga tersebut akan melirik pasar Indonesia jika operator di negeri ini terlalu lambat untuk mengadopsi teknologi terbaru.
 
Sesungguhnya disrupsi besar-besaran tidak hanya terjadi di dunia bisnis, tetapi hampir di semua bidang. Dalam pendidikan misalnya kita menyaksikan upaya-upaya lebih serius mengefektifkan pembelajaran jarak jauh melalui teknologi digital. Ke depan, nama besar lembaga-lembaga pendidikan dengan fasilitas lengkap, tenaga pendidik terbaik dan jaringan luas tidak lagi jaminan untuk menarik peminat. Kecepatan mengadopsi teknologi terbaru ke dalam proses pembajaran akan menentukan siapa yang unggul di bidang tersebut.
wartawan
Putu Suasta
Category

BNNK Gianyar Obok-Obok Kafe Remang-Remang, 111 Orang Jalani Tes Urine

balitribune.co.id | Gianyar - Tempat hiburan malam yang sering disebuat Kafe Remang-remang kembali diobok-obok. Kali ini Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gianyar gandeng aparat gabungan. Seratus lebih pengunjung, pelayan hingga pengelola tempat tersebut diwajibkan jalani test urine. Hasilnya, seorang diyatakan positif mengandung metamfetamin.

Baca Selengkapnya icon click

Patroli Diperketat, Keamanan Pelabuhan Celukan Bawang Jadi Perhatian

balitribune.co.id | Singaraja - Aktivitas di kawasan Pelabuhan Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, terus mendapat pengawasan kepolisian. Tingginya mobilitas masyarakat, pekerja, awak kapal, hingga pengguna jasa membuat aspek keamanan menjadi salah satu perhatian utama.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dewan Bangli Kritisi Jalan Rusak hingga Utang PEN 

balitribune.co.id | Bangli - Rapat Paripurna DPRD Bangli yang digelar pada Jumat (25/9/2026) mengungkap RAPBD Bangli 2027 yang disampaikan pihak eksekutif tercatat senilai Rp1,32 triliun. Hal ini mendapat sorotan  DPRD Bangli. Rapat yang berlangsung secara maraton itu. dipimpin langsung Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika. 

Baca Selengkapnya icon click

Dua Rumah Terbakar, Kerugian Tembus Rp260 Juta

balitribune.co.id | Singaraja - Dua rumah warga di Kabupaten Buleleng terbakar dalam waktu berbeda pada Minggu (27/9/2026). Kebakaran terjadi di Dusun Galiran, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, dan Banjar Dinas Padangbulia, Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada. Tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut. Namun, kedua rumah mengalami kerusakan berat dengan total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp260 juta.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Mulai 1 Oktober 2026, Pelaporan Insidental Sektor Pasar Modal dan Bursa Karbon Wajib Lewat Sistem OJK

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pengawasan sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon melalui digitalisasi pelaporan. Mulai 1 Oktober 2026, penyampaian laporan insidental kepada OJK wajib dilakukan melalui sistem pelaporan yang terintegrasi.

Baca Selengkapnya icon click

Transaksi Digital Tumbuh 40,36 Persen, QRIS Tembus 69,32 Juta Pengguna

balitribune.co.id | Jakarta - Ekonomi dan keuangan digital (EKD) semakin dipandang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Untuk mengoptimalkan potensinya, sinergi kebijakan, inovasi teknologi, penguatan talenta digital, serta keamanan sistem pembayaran menjadi agenda utama Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.