Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

MOMENTUM MEMBANGUN SEKTOR PERTANIAN?

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar (E) pada Fak. Pertanian Unud dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra.

balitribune.co.id | Dalam suasana “lockdown” Virus Corona,  saya mendapat telpun dari seniman Prof. Wayan Dibia.  Beliau adalah kolega satu kampung. Sebagai seniman, beliau sudah mencicipi sekolah, dan melanglang buana kemana-mana. “Sekarang adalah momentum untuk membuat kebijakan membangun pertanian” katanya tegas. Ditambahkan bahwa, kalau kita terus-menerus mau tergantung dari sektor pariwisata, inilah akibatnya. Pantai Kuta sudah seperti kawasan yang baru saja kalah perang. Kita sudah rasakan berkali-kali. Kok, kita tidak pernah sadar ya. Harapan-harapan yang diberikan oleh sektor pariwisata, nyaris merupakan harapan “palsu”. Setiap saat dan secara mendadak, keadaan bisa berubah. Prof. Dibia, terus nyeroscos. Untuk menghormati lawan bicara, lalu saya memberikan respon. “Kita hanya mendapatkan migran, mi-gerang, dan kemudian menderita migren….”. Lalu saya dan Prof.Dibia tertawa terbahak-bahak.

Saya sangat menghormati kolega saya yang seniman itu, lalu tiba-tiba berbicara tentang pertanian. Mungkin kalau tidak sangat “dendam”, beliau tidak akan menelpun saya, dan mengurus pertanian. Karena apa ? Karena beliau sudah berada dalam zone nyaman. Prof. Dibia tak henti-hentinya berkeliling dunia. Tentu saja sambil menari, mengajar, dan nyaris selalu didampingi penari-penari, yang biasanya cantik dan sexi. Akhirnya saya sarankan agar Prof. Dibia berkirim surat keprihatinan-nya kepada Gubernur Bali. Kalau perlu tembuskan kepada Wagub Cok Ace. Sekali-sekali biarlah sang seniman yang berbicara tentang pertanian. Saya sih, sudah lama berbuih-buih.

Memang demikianlah adanya. Semua orang beranggapan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang sangat penting. Tetapi selalu diperlakukan sebagai sektor yang tidak penting. Dialokasikan anggaran yang tidak sepadan, diberikan bansos yang tidak sepadan, dll.  Mirip sama dengan air. Semua paham bahwa air adalah sumberdaya yang sangat penting. Tetapi selalu diperlakukan sebagai benda yang tidak penting. Air dipakai sebagai tempat pembuangan sampah, bangkai, plastik, kotoran, dikencingi, diberaki, dll.

Ekonom Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama menyebutkan bahwa pembangunan pertanian selalu menuai pro-kontra. Output yang dihasilkan menunggu waktu yang sangat lama. Namun pada saatnya, pembangunan sektor pertanian akan menentukan, apakah suatu bangsa bisa tetap eksis atau tidak.  Statemen-nya terasa galak sekali. Namun esensinya adalah bahwa pembangunan sektor pertanian jangan dibiarkan auto pilot. Pemerintah harus campur tangan dan punya kebijakan khusus di sektor pertanian. Anggaran harus tersedia dalam jumlah yang sepadan di APBN dan APBD. Kalau tidak, maka sektor pertanian pasti akan tergilas. Demikian komentar Prof. Tum, pemenang hadiah nobel dari Guatemala.

Silahkan dibayangkan sekarang, dalam suasana lockdown. Kalau tidak ada yang bisa dimakan, meski kita punya uang, emas, dan hotel, apakah kita bisa menjamin tidak akan terjadi keributan? Kalau pada suatu saat dunia sudah lockdown, dan  tidak ada makanan yang cukup. Maka negara timur dan barat, dikhawatirkan akan menyerbu kawasan katulistiwa. Untuk apa? Untuk mencari bahan makanan. Bisa bahan makanan yang ada di laut, dan bisa juga di darat. Mungkin kalau harus perang, maka perang karena makanan bisa saja terjadi. Sudah pernah ada kasus baru-baru ini. Di mana kapal ikan dari RRT di kawal kapal perang-nya, untuk mencari ikan di Laut Natuna. Sampai-sampai Presiden Jokowi terbang langsung ke Natuna, dan teriak-teriak di sana,  bahwa Sang Presiden sama sekali tidak merasa takut.

Apapun yang terjadi, memang demikianlah nasib sektor pertanian. Hampir di seluruh dunia, nyaris tidak ada pemimpin yang suka membangun sektor pertanian secara signifikan. Karena urusannya sangat banyak, orang yang diurus sangat banyak, orang yang diurus kadang-kadang licik, berbelit, hasilnya belum tentu sukses, hasilnya tidak kasat mata di haribaan publik, waktu keberhasilannya harus menunggu sangat lama, dll. Yang saya tahu, hanya Pak Harto yang secara konsisten sejak awal pemerintahannya membangun pertanian. Itupun mungkin terjadi, karena sebelumnya kita rakyat Indonesia, sangat kekurangan beras (bahan makanan). Sebelumnya harga beras sangat mahal. Harga beras hampir setiap hari naik. Waktu itu, kita harus terpaksa makan bungkil pisang. Sedang nasi campur jagung, ketela, dll sudah merupakan barang mewah pada saat itu.

Mari kita kembali pada keluhan rekan saya Prof. Dibia. Apakah sekarang momentumnya untuk membanngun sektor pertanian? Perlu saya katakan bahwa momentum membangun sektor pertanian selalu ada dan terbuka. Tidak perlu menunggu krisis. Masalahnya, tidak ada pemimpin yang suka membangun sektor pertanian. Dalam era ini, paling-paling pada saat kampanye para kandidat berbicara tentang pertanian. Setelah itu, jangan harap mereka masih ingat untuk meng-implementasikan janji-janjinya. Saya berharap, seniman/budayawan kita Prof. Wayan Dibia, tidak akan kecewa, kalau suratnya nanti tidak mendapatkan perhatian yang sepadan. Mungkin seorang pemimpin baru akan tergerak membangun pertanian, kalau kita sedang tidak bisa makan. Bahan makanan sudah tidak ada. Lalu nyaris terjadi chaos. Pada titik seperti itu, kita akan sangat telat membangun pertanian.

Ketika diadakan suvey menjelang pengusulan subak sebagai warisan dunia, para petani yang di survey hanya ingin mendapatkan bebas dari pajak PBB (subsidi 100%), dan air irigasinya dijamin. Jadi, permintaannya sederhana sekali. Hingga sekarang-pun permintaan itu tidak pernah terjadi menjadi kenyataan.              

 

             

wartawan
Wayan Windia
Category

Tabanan Raih MBIZMARKET Award 2025, Bupati Sanjaya Tegaskan Komitmen Pengadaan Transparan

balitribune.co.id | Tabanan – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Best Adoption of Government Marketplace Award 2025 dalam ajang MBIZMARKET Award 2025 yang digelar di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Yogyakarta, Kamis malam (29/1).

Baca Selengkapnya icon click

Rayakan Imlek 2577, TITD Ling Gwan Kiong Singaraja Usung Tema "Harmoni Imlek Nusantara"

balitribune.co.id | Singaraja - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada tahun 2026, Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Seng Hong Bio - Ling Gwan Kiong Singaraja telah menyiapkan serangkaian kegiatan. Tahun ini, perayaan mengusung tema "Harmoni Imlek Nusantara."

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dalih Efisiensi Anggaran, Wakil Ketua III DPRD Buleleng Kembalikan Tiga Kendaraan Dinas

balitribune.co.id | Singaraja - Dengan dalih efisiensi, Wakil Ketua DPRD Buleleng Kadek Widana mengembalikan 3 kendaraan dinas yang menjadi fasilitas untuk menunjag kinerjanya. Pengembalian dilakukan pada Jumat, 30 Januari 2026 ke Sekretariat DPRD Buleleng disertai surat pernyataan pengembalian. 

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Kembang Hartawan: Air Bersih Jadi Fondasi Vital PSN Pelabuhan Pengambengan

balitribune.co.id | Negara - Rencana Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan Jembrana akan menggantikan fungsi pelabuhan Benoa, Denpasar tidak lama lagi akan terwujud. Sejumlah tahapan kini telah berlangsung sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Salah satu yang menjadi isu serius adalah ketersediaan air bersih.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

SIMPATI Hadirkan Fitur Akumulasi Kuota, Sisa Data Tak Lagi Hangus 

balitribune.co.id | Jakarta - Telkomsel, melalui brand prabayar SIMPATI, memperkenalkan fitur Akumulasi Kuota (Sisa Kuota Bisa Dibawa) yang memungkinkan pelanggan tetap dapat menggunakan sisa kuota utama pada bulan berikutnya. Dengan hadirnya fitur ini, pelanggan SIMPATI kini memiliki keleluasaan lebih dalam mengatur pemakaian internet, membuat manfaat jumlah kuota pelanggan makin optimal sesuai perkembangan kebutuhan.

Baca Selengkapnya icon click

Cerdas di Jalan, Bijak di Sosmed, Aksi Astra Motor Bali Bareng Pelajar Singaraja

balitribune.co.id | Singaraja – PT Astra Motor Bali kembali menegaskan komitmennya dalam membangun budaya berkendara yang aman dan bertanggung jawab sekaligus meningkatkan kecakapan generasi muda di era digital melalui kegiatan Edukasi Safety Riding dan Pelatihan Literasi Digital yang dilaksanakan di SMPK Santo Paulus Singaraja, Jumat (30/1).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.