Pariwisata Bali Era Baru, Kembali ke Jati Diri | Bali Tribune
Bali Tribune, Jumat 07 Agustus 2020
Diposting : 13 July 2020 18:48
I.B. Arnawanta Prawira S.Par - Bali Tribune
Bali Tribune/ I.B. Arnawanta Prawira S.Par
balitribune.co.id | Headline beberapa koran dan media online awal bulan juli 2020,  Gubernur Bali Bapak I Wayan Koster mengatakan  “Pariwisata Bali harus kembali kepada Jati diri dalam era Bali baru”, menggelitik saya yang seorang pelaku dan juga pengamat pariwisata karena makna dari konten tersebut sungguh mengena pada masyarakat orang Bali yang sudah terlena oleh gemerlapnya dollar pariwisata sehingga melupakan ‘Wit” nya yakni konsep/philosophi ajaran agama Hindu yang sudah diterapkan berabad-abad oleh leluhur kita “Tri Hita Karana”. Padahal ada Tri Hita Karana Award, Kalpataru Award, Hari raya Tumpek dan bahkan rerahinan lainnya yang berkonotasi pada menjaga, melestarikan lingkungan atau alam semesta. Apakah yang terjadi pada orang Bali? Rajasika dan Tamasika lah yang mempengaruhi, merasuki sebagian besar pikiran orang Bali yang berorientasi pada materi, kekayaan, kekuasaan, budaya narsisme, gaya hidup sehingga warisan leluhurnya yang berupa tanah, ladang, sawah, dan lainnya yang seharusnya dijaga, dipelihara untuk anak cucu selanjutnya dijual, bahkan diperebutkan melalui pengadilan. Yang akhirnya alam dan lingkungan pulau Bali mengalami degradasi/kerusakan, pantai nya abrasi, penuh sampah, sungai nya yang dahulu bisa untuk mandi menjadi tempat pembuangan akhir dari segala produk manusia, tata ruang dan fungsi suatu area berubah dari jalur hijau/restricted green area menjadi gedung beton atau hotel/akomodasi untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan, padahal almarhum gubernur Bali Prof I.B. Mantra sudah mendesain daerah hulu seperti gunung, lembah, danau, sungai tidak boleh disentuh sama sekali oleh pembangunan pariwisata, dengan mempertahankan konsep “Hulu Teben”. Filsafat Hulu Teben adalah suatu pemikiran yang brilian dari leluhur kita untuk menjaga alam semesta/lingkungan pulau Bali.
 
Dipersonifikasikan seperti seorang manusia dengan Kepala dan Kakinya atau daerah yang Suci/Sakral dengan area yang Leteh/Profan. Kita bisa membayangkan kalau kaki/badan yang kotor cukup dibersihkan dengan air dan sabun, tapi kepala yang kotor dimana kepala adalah pusat/idep dari kehidupan umat manusia, ada manah, akal dan pikiran, pengetahuan, bahkan pada ajaran Hindu dikenal dengan sebutan Ciwa Dwara, bagaimana dan apa yang digunakan untuk membersihkannya???
 
Manusia diciptakan dengan mempunyai Tri Pramana yakni Bayu, Sabda dan Idep. Tumbuh-tumbuhan hanya bisa bergerak mengikuti suara angin, binatang/hewan dilengkapi dengan gerak dan suara, sehingga bisa berkomunikasi antar mereka saja, sedangkan manusia dilengkapi dengan daya nalar, manah, akal dan pikiran, pengetahuan. Jadi seharusnya dengan idepnya ini orang Bali menjadi orang yang bijaksana dalam segala tindak tanduknya, berazaskan pada ajaran Sattwam untuk mengontrol Rajasika dan Tamasika nya. Tetapi karena industri pariwisata dengan dollarnya, mempengaruhi daya akal dan pikiran orang Bali, alam Bali pun menjadi “Land for sale”, tanah pertanian menjadi vila, restaurant, pantai-pantai di klaim menjadi milik pribadi, tebing-tebing, sempadan sungai yang dulunya angker, dikeramatkan menjadi atraksi wisata, hotel bertaraf internasioanal dan masih banyak lagi perubahan yang menjadikan pulau Bali ini seperti bukan milik orang Bali lagi. Sehingga philosophi Hulu Teben yang disakralkan pun menjadi pudar bahkan sirna ditelan waktu. Mana daerah yang sakral atau disucikan dan mana daerah profan yang boleh disentuh. Alam pun tentu mengalami perubahan, karena masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, menjaga alam, melestarikannya atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh alam itu sendiri. Sehingga alam pun mempunyai caranya sendiri untuk memberi pelajaran pada manusia. Lihatlah adanya gunung meletus, banjir dan gelombang besar dari laut/tsunami, longsor pada hutan yang gundul, yang akhirnya menimbulkan berbagai 
 
Pandemi covid-19 sudah hampir 7 bulan melanda dunia sejak di awali dari Wuhan Cina akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020. Dunia dikejutkan dengan munculnya virus corona yang sangat mematikan. Kehebohan virus ini telah memakan korban jiwa ratusan ribu di kota Wuhan itu sendiri, dan selanjutnya menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Virus Corona jenis/spesies baru ini dikenal dengan nama Novel Coronavirus 2019/nCov 2019 yang lebih dikenal dengan nama Covid-19. Penyebarannya sangat cepat dan mematikan dalam waktu singkat, Hanya dalam hitungan hari, minggu, sebarannya sudah ke negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, Korea, Vietnam, Thailand, Laos, Singapura, Iran. Kemudian covid-19 ini menjalar ke Eropa seperti Italia, Spanyol, Inggris, Jerman. Selanjutnya Amerika Serikat dan sekitarnya juga terdampak covid-19. Australia, Selandia Baru yang di benua Oceania juga terdampak, dan pada tanggal 2 Maret 2020 akhirnya secara resmi diumumkan covid-19 melanda Indonesia. 
 
Dampak pandemi covid-19 sangatlah dashyat bagi planet bumi ini. 216 negara di dunia ini sudah merasakan dampaknya, dengan terkontaminasi 10.897.074 orang di seluruh dunia, kasus meninggal 521.874, dan di Indonesia sendiri 60.695 orang yang terpapar dengan kasus meninggal 3.036 orang, dan untuk Bali 1.706 orang yang yang positif terkena covid-19 dengan kasus meninggal 16 orang (data 3  Juli 2020). Selain sudah membunuh ratusan ribu umat manusia di bumi ini yang bisa dilihat secara kasat mata datanya, covid-19 bahkan membuat multiplier efek/efek ganda atau efek domino terhadap kehidupan umat manusia. Dampaknya tidak hanya pada sektor kesehatan, juga di bidang ekonomi, sektor sosial, budaya, pariwisata bahkan psikologis. Jutaan manusia mengalami pemutusan hubungan kerja atau menjadi pengangguran selama berbulan-bulan dengan situasi ketidakpastian, dirumahkan atau bekerja dari rumah, sekolah dari rumah yang tentu saja tidak akan efisien, Bahkan setiap orang diliputi rasa ketakutan, curiga satu sama lainnya, stress/mengalami tekanan ekonomi dan kejiwaan, sehingga secara tidak langsung berdampak pada tingkat kriminalitas di masyarakat. Orang yang lapar pasti tidak akan bisa berfikir rasional, yang terpenting dalam pikiran mereka adalah bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya (hungry people becoming angry people).
 
Bagi pulau Bali yang mengembangkan dan mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber devisa/pendapatan bagi daerah dan juga bagi jutaan penduduknya, mengalami dampak terparah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Industri pariwisata adalah indutri hospitality atau keramah tamahan, yang kita tahu masyarakat Bali sangat welcome/terbuka menerima wisatawan baik nusantara maupun asing, sehingga diminati dan dikunjungi hampir 5 jutaan wisatawan setiap tahunnya, menjadikan industri pariwisata harapan dan ladang kerja jutaan masyarakat Bali, tidak terbantahkan juga mendatangkan jutaan migran dari daerah lain. Dengan adanya pandemi covid-19 ini kita bisa bayangkan berapa juta orang mengalami kehilangan mata penchariannya, demikian juga keluarganya menghadapi dampak yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun sebelumnya, karena industri pariwisata terdiri dari berbagai sektor, seperti sektor utama yaitu 1) Market/Wisatawan, 2) Travel/Transferabilitas angkutan, 3) Destinations/Daerah Tujuan Wisata dan 4) Marketing/pemasaran. Industri penerbangan, industri perhotelan, travel agent/agen perjalanan, dan juga sektor penunjangnya seperti toko kerajinan seni, gallery, transportasi lokal,  dan lainnya yang tentu saja melibatkan jutaan orang.
 
Pemerintah Daerah Bali sudah menetapkan pengembangan pariwisata di Bali adalah pariwisata budaya yakni pariwisata yang berazaskan pada budaya masyarakat nya yang dijiwai oleh agama Hindu, dengan harapan pariwisata Bali berjalan  selaras, serasi dan harmonis dengan kebudayaan masyarakat Bali yang berakar pada nilai-nilai agama Hindu yang di anut oleh masyarakatnya. Dan sudah diuraikan di atas bahwa pariwisata budaya yang diterapkan di Bali berdasarkan konsep philosophi Tri Hita Karana yang merupakan warisan leluhur dan harus terus diterapkan demi anak cucu kita. Konsep Parahyangan (Nilai-nilai Luhur Agama Hindu), yakni konsep berfikir orang Bali bahwa kehidupan mereka berasal dari Sang Pencipta/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena itu harus ada keseimbangan dan keselarasan hidup antara manusia/orang Bali dengan Sang Pencipta/ida Sang Hyang Widhi Wasa. oleh karena itu mereka mewujudkan puji syukurnya dengan persembahan/sesaji, canang sari dan juga bebantenan yang dihaturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Dewa-Dewi. dan para Leluhur. Pawongan (Nilai-nilai HAM), Ini bisa dilihat dari struktur suatu rumah orang Bali yang terbuka, maknanya menerima dan membuka diri untuk setiap hubungan sesama manusia. Juga adanya peranan/konsep Banjar yang menyatukan orang Bali dalam bermasyarakat. Dan  konsep keseimbangan hidup orang Bali dengan alam semesta, alam sekitar beserta isinya.Ini dinamakan Palemahan (Nilai-nilai pelestarian lingkungan). Konsep ini menjadikan orang Bali menghormati, menjaga dan memelihara alam nya baik alam nyata maupun alam astral. Tri Hita Karana inilah Jati Diri Orang Bali. Konsep berfikir ini yang seharusnya dipertahankan dalam membangun pariwisata Bali, bukan seperti pameo membangun pariwisata di Bali.   
 
Tatanan kehidupan Bali Era Baru akan dimulai 9 Juli 2020 mendatang. Pulau Bali dibuka hanya untuk sektor di luar pariwisata dan Pendidikan bagi masyarakat Bali/lokal. Pemprof Bali melakukan upacara Pemahayu Jagat di pura Besakih dalam  rangkaian memulai tatanan Bali Era Baru bertepatan dengan purnama sasih Kasa dan hari raya Banyu Pinaruh, hari minggu 5 Juli 2020. Demikian juga dengan Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan upacara Pengelukatan Segara dan Gunung atau Homa Tirta Pengelukatan Suda Mala di pantai Padanggalak, memohon agar pemdemi covid-19 ini cepat teratasi. Jika skema secara niskala ini berhasil, akan dilanjutkan dengan pembukaan Bali untuk wisatawan domestik/nusantara mulai 31 Juli 2020. Dengan catatan Bali akan selektif membuka obyek wisata agar tidak menjadi kluster penularan gelombang baru. Kecerdasan, optimisme, kreativitas, kepercayaan orang Bali bahwa dunia seperti roda yang berputar, ada kehidupan masa lalu, sekarang dan masa datang dengan menyikapi pandemi covid-19 sebagai gering agung, perlu introspeksi diri/mulat sarira, dengan alamnya…apakah yang telah diperbuat orang Bali terhadap lingkungannya/alam semesta, apakah sudah mencerminkan dengan philosophi Tri Hita Karana, konsep Hulu Teben dan filsafat lainnya dari ajaran agama Hindu yang merupakan Jati Diri Orang Bali???