Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Menara bambu Desa Tigawasa Sebagai Daya Tarik Wisatawan

INOVASI
Salah satu bangunan menara bambu di desa Tigawasa

BALI TRIBUNE - Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, memang salah satu desa yang mengedepankan konsep alam. Bagaimana tidak, Desa yang memiliki ketinggian 750 diatas permukaan laut, dikelilingi oleh hutan dan perkebunan yang subur dan asri. 

Dengan keindahan alam itu, Desa Tigawasa mulai berkembang menjadi desa yang mempunyai potensi wisata alam yang sangat baik.

Dengan memiliki potensi wisata alam, terlebih di Desa itu dengan ketinggian wilayahnya mampu melihat hamparan beberapa desa dan pesisir di Buleleng dan beberapa pegunungan yang ada di wilayah Jawa Timur, membuat banyak wisatawan asing yang ingin melihat hamparan wilayah Buleleng melalui Desa Tigawasa.

Dengan banyaknya wisatawan ingin melihat Buleleng melalui wilayah Desa ini, maka timbul niat sebagian warga Desa Tigawasa membangun sebuah lokasi menara yang berfungsi untuk melihat hamparan wilayah Bali Utara ini. Di Banjar Dinas Wanasari, Desa Tigawasa inilah dibangun menara setinggi 7 meter.

"Ini awalnya, kan karena banyak wisatawan ingin melihat Buleleng dan keindahan alam, malah berhenti disini. Dari sana saya berpikir, kenapa gak membuat lokasi yang khusus untuk melihat keindahan alam itu. Saya bicara dengan suami, setujui. Rembuglah, ya selama 2 minggu akhirnya deal untuk membuat. Dan memilih lahan cengkeh yang ada di dekat rumah kami," kata salah satu pengelola Kubu Alam, Kadek Sumiyani akrab disapa Amik.

Bersama penggagasnya, Gede Widarma, akhirnya sepakat membuat kelompok berjumlah 5 orang membangun rumah pohon. Karena dirasa kurang cocok, akhirnya diberi nama kubu alam. Dari menara ini, hamparan perbukitan dan pesisir Buleleng terlihat jelas. Bahkan jelang petang, matahari tenggelam akan sangat indah terlihat.

Di lahan kebun cengkeh milik mertuanya ini, tutur Amik, menara itu dibangun dengan konsep alam yakni, memakai bambu khas Desa Tigawasa. Maklum selama ini, Desa itu memang popular dengan hutan bambu. Di puncak menara, dibuat spot berbentuk perahu untuk melihat pemandangan alam yang ada di bawahnya. Cukup membayar dengan Rp5 ribu per orang, pengunjung akan disambut oleh sebuah tulisan wellcome Kubu Alam.

Selanjutnya, pengungjung akan bisa berswafoto sembari menikmati keindahan alam di bawahnya. Sebelum menaiki tangga, pengungjung akan melihat hiasan terbuat dari akar pohon yang kering. Bukan itu saja, di tempat tersebut pengungjung akan dibuat nyaman karena dikelilingi dengan pohon cengkeh yang membuat suasana sejuk.

"Ini bambu spesial khas desa kami, apalagi bambunya sudah kuat-kuat. Kami memang sengaja membuat dengan konsep selfie. Akar itu, kami ambil dari pohon tua," tutur Amik.

Perlu waktu 2 bulan menggarap menara ini. Dan baru dioperasikan sejak hari raya Galungan. Di menara itu, mampu menampung maksimal 10 orang. Setelah dari menara dan pengunjung puas melihat keindahan alam dibawahnya, pengungjung bisa duduk santai di sebuah tempat yang sama terbuat dari bambu, dengan ketinggian 5 meter, sambil menikmati suguhan kopi Bali khas Tigawasa.

"Pengungjung kesini, paling banyak orang eropa. Sehari ada saja, kalau orang lokal pasti ada. Apalagi saat liburan Galungan dan Kuningan kemarin, pengunjungnya banyak, bisa sampai lebih 50 orang. Tapi kalau hari biasa, rata-rata 10 sampai 15 orang. Ya, soalnya dari ketinggian ini, Celukan Bawang bisa kelihatan. Bahkan, gunung di Jawa Timur juga kelihatan," ungkap Amik.

Meskipun ini terbilang baru, kedepan pengelola Kubu Alam berencana akan mengembangkan dengan membangun Kubu layaknya tempat workshop bambu. Dengan harapan, mampu menyerap tenaga kerja lokal yang bergelut di dunia usaha pengrajin bambu. Terlebih, upaya ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Pemerintah Desa Tigawasa. 

"Disini kan terkenalnya bambu, banyak pengrajin bambu. Kami akan sediakan tempat disini, itu prospek kami kedepan. Nanti, orang bisa belajar gimana pengrajin bambu, kan sekaligus juga membuka lapangan pekerjaan," ujar Amik.

Sementara salah seorang pengunjung, Gede Sumberta mengaku, senang. Sebab, melalui menara ini mampu melihat keindahan Buleleng. "Semua bisa dilihat. Hanya saja, masih perlu dikembangkan lagi. Utamnya, soal kesalamatan, apalagi kalau hujan, bambu kan licin, itu harus dipikirkan," ujar Sumberta warga Anturan.

Semangat masyarakat yang bergeliat secara berswadaya memajukan desanya dalam menciptakan kawasan wisata yang kreatif dan inovasi, mendapat apresiasi dari salah satu Anggota DPRD Provinsi Bali, Nyoman Tirtawan. Tirtawan mengaku, mendukung penuh peran aktif masyarakat Tigawasa ini.

"Harus kami dukung, ketika pemerintah menciptakan produk apapun, harus diapresiasi. Kesadaran masyarakat di Tigawasa sangat tinggi, ini terlihat Desa ini bersih dan ini harus dicontoh desa lain. Terlebih, ide Buleleng bebas sampah plastik ternyata bisa dirasakan manfaatnya dikawasan tigawasa yang dikenal asri," pungkas Tirtawan.

wartawan
Made Ari Wirasdipta
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Hadiri Karya di Pura Dalem Jambe Kapal, Bupati Adi Arnawa Tekankan Pengelolaan Sampah Mandiri dan Program Pendidikan Gratis

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menghadiri rangkaian upacara Nyakap Karang, Melaspas, dan Mendem Pedagingan di Pura Dalem Jambe, Banjar Adat Panglan Baleran, Kelurahan Kapal, Selasa (17/2). Kehadiran Bupati didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelestarian adat dan budaya di gumi keris.

Baca Selengkapnya icon click

Ketupat, Barongsai dan Canang, Cerita Akulturasi Alami Umat Tionghoa di Tabanan

balitribune.co.id | Tabanan - Ribuan umat keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577 di Kong Co Bio Tabanan dengan suasana akulturasi budaya Bali yang kental melalui penggunaan sarana canang dalam persembahyangan.

Selain dupa dan kue keranjang, kehadiran ornamen serta sesaji khas lokal ini menjadi simbol keharmonisan tradisi leluhur Tionghoa dengan budaya Hindu di Kabupaten Tabanan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Warga Tionghoa Buleleng Pusatkan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong

balitribune.co.id | Singaraja - Warga etnis Tionghoa di Kabupaten Buleleng merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dipusatkan di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja. Sejumlah rangkaian acara digelar sebelum dilaksanakan sembahyang tutup tahun dan melepas Tahun Ular oleh pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Ling Gwan Kiong dan Seng Hong Bio.

Baca Selengkapnya icon click

Mulai 23 Februari Pelabuhan Gilimanuk Terapkan E-Money

balitribune.co.id | Negara - Para pengendara yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa maupun yang masuk Bali melalui Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk tidak bisa lagi membayar retribusi (tiket) secara manual. Untuk membayar retribusi di Terminal Manuver maupun Terminal Gilimanuk kini menggunakan uang elektronil E-Money.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.