Protes Warga Banjar Pule Tidak Ditanggapi | Bali Tribune
Diposting : 3 July 2017 19:14
Agung Samudra - Bali Tribune
PASAR KIDUL
TAK SEDAP - Lokasi tempat pedagang ikan mujair berjualan , kini terbarkan bau tak sedap.

BALI TRIBUNE - Pembuangan air limbah ikan mujair yang dilakukan secara sembarangan oleh pedagang ikan di Pasar Kidul Bangli menebar aroma tak sedap. Fenomena yang tidak mengenakkan ini mengundang protes dari warga Banjar Pule, Kelurahan Kawan Bangli.

Sejatinya warga melalui Klian Adat Banjar Pule telah beberpa kali menyampikan keluhan itu ke instansi terkait, namun belum mendapat langkah penanganan yang konkrit dari pemerintah maupun dari pengelola pasar. "Sudah hampir tiga tahun kami melayangkan  protes terkait air limbah kotoran ikan mujair yang dibuang secara sembarangan oleh pedagang, belum juga ditindaklanjuti," kata Klian Adat Banjar Pule I Made Sukadana, Minggu (2/7).

Kata tokoh masyarakat Banjar Pule ini, dibuangnya limbah oleh pedagang ikan mujair yang berjualan di bagian  timur komplek Pasar Kidul secara sembarangan, menebar bau tak sedap. Maka tidak mengherankan jika para pengunjung pasar saat melintas di bagian sisi luar timur pasar harus menutup hidung karena tidak kuat dengan bau tak sedap itu.

“Setahun lalu sempat dari Dinas Perdagangan bersama Bapak Ketua DPRD Bangli didampingi pengelola pasar turun, terkait keluhan yang kami sampaikan, beberapa hari pedagang memang mau mengikuti saran yang disampaikan Dinas Perdagangan agar tidak membuang limbah secara sembarangan, namun pedagang justru kembali membuang air limbah bercampur kotoran dan sirip ikan di  jalan," kata pria yang juga Ketua Widiasaba Seni Suara Tradisional Bangli ini seraya menambahkan hal ini terjadi karena kekurangtegasan pengelola pasar.

Sebut salah seorang  guru di SMANI Bangli ini , dampak dari pembungan  air limbah secara sembarangan, selain membuat  kondisi pasar kumuh, juga rentan mengundang  penyakit bagi warga  sekitar pasar. "Harapan kita pedagang ikan mujair tersebut diberikan ruang untuk berjualan di dalam pasar bersama pedagang daging, sehingga limbah bisa dibuang di tempat yang telah disediakan di dalam," sebutnya.

Papar Sukadana selain dari air limbah, bau tak sedap juga dipicu dari tumpukan sampah di dalam bak sampah. Selain  masalah limbah, anggota pengurus PHDI Bangli ini juga menyinggung masalah parkir kendaraan yang tidak beraturan, juga masalah keberadaan pedagang yang berjulan diaatas trotoar  di sebelah utara Pura Melanting.  "Masalah pedagang diatas trotoar, pihak pengelola pasar berjanji akan menertibkan usai  hari raya Galungan, ternyata realitanya hingga hari ini pedagang masih dibiarkan berjualan di sana," ungkpanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Bangli, Drs  I Nengah Sudibya saat dikonfirmasi terkait keluhan warga itu, tidak menampiknya. Pejabat asal Desa Penglipuran ini mengatakan terkait keinginan warga agar pedagang ikan mujair ditempatkan didalam pasar, kemungkinan baru bisa terlaksana di tahun 2018. "Rencana ke arah sana sudah kita pikirkan, nantinya pedagang ikan mujair yang selama ini berjulanan diluar akan  ditarik ke dalam," sebutnya.