Dampak Corona, Buruh Tukang Suun di Pasar Galiran Merana | Bali Tribune
Bali Tribune, Sabtu 19 September 2020
Diposting : 17 March 2020 22:13
Ketut Sugiana - Bali Tribune
Bali Tribune/ TERMANGU - Dua buruh suun Pasar Galiran tampak termangu tidak ada orderan nyuun.
Balitribune.co.id | Semarapura - Kekhawatiran masyarakat Klungkung terhadap penyebaran virus Corona belakangan ini berimbas kensegala sektor kehidupan warga. Kondisi menurunnya kegiatan perekonomian masyarakat. Imbasnya juga dirasakan oleh para pedagang yang berjualan di Pasar Galiran, Klungkung. 
 
Pedagang warung kopi yang biasa mangkal di Pasar Galiran, Pak Ketut menyatakan rasa kekhawatirannya yang mendalam atas situasi dampak sebaran virus Corona ini. "Pak, benar semua pedagang akan ditutup selama dua minggu?" tanyanya kepada wartawan yang kebetulan dikenalnya.
 
Dengan pertanyaan pedagang ini jelas situasi dari dampak sebaran masif pemberitaan di media sosial yang sumbernya tidak jelas mereka telan mentah-mentah. Tampak raut wajah kekhawatiaran mereka dari caranya bertanya pedagang tersebut. Namun yang paling terpukul dari imbas masif ketakutan warga akan terjadinya penyebaran virus Covid 19 ini, dirasakan oleh dua orang buruh tukang suun di Pasar Galiran Klungkung yang sempat ditemui. 
 
Dia adalah Ni Nengah Sudarmi (50) alamat Banjar Ulun Suwi, Desa Sampalan Klod, Dawan, Klungkung. Ditemui sekitar pukul 10.00 Wita Selasa (17/3), dia mengaku sejak pagi pagi sekitar pukul 4 pagi untuk meburuh nyuun di Pasar Galiran ini, dia mengaku hanya baru mendapatkan rejeki ongkos upah Nyuun sekitar Rp 10 ribu. Di pasar yang terbesar di Bali Timur ini biasanya dirinya sehari dapat paling minim Rp 100 ribu tengah hari. "Biasanya sampai jam segini, sudah dapat kumpulkan uang Rp 50 ribu, tapi nyatanya sepi pak, hanya dapat cuma sekali ngangkut Nyuun barang konsumen di pasar ini," ujarnya memelas. Dia mengaku menafkahi 2 anaknya yang masih duduk di bangku SMA di Kecamatan Dawan. "Tiang meburuh nyuun untuk bisa melanjutkan pendidikan anak anak tiang yang sudah beranjak besar," terangnya mengeluh.
 
Hal yang sama dikemukakan oleh buruh suun lainnya, Ni Nengah Sirig (60) alamat Banjar Tengah Desa Akah, Klungkung. Nenek renta yang mengaku memiliki 4 orang cucu dari 4 anak ini tampak bengong, berdiri termanggu sambil menunggu jika ada pengunjung Pasar Galiran yang mengordernya untuk buruh nyuun barang mereka. "Dia sudah dapat Rp 10 ribu, saya sejak pagi belum dapat sepeserpun," ujarnya dalam bahasa bali medok menyesali nasibnya belum dapat rejeki, seraya menunjuk temannya tadi.
 
Ketika ditanya akan berhenti meburuh karena situasi sepi ini? Dengan pasrah mereka kompak menyatakan akan tetap meburuh sampai kapanpun karena di sini sumber kehidupannya dan tidak memiliki keahlian pekerjaan lainnya. "Kanggeang tiang pak, mogi wenten sane jagi muruhang nyuun belanjaan ragane." ujarnya dalam bahasa Bali, yang maksudnya kurang lebih, ya apa boleh buat pak,semoga ada warga yang berniat menyuruh mereka bawakan barang belanjaan mereka.