Suwandi Acungi Jempol Prestasi Pecatur Junior Bali | Bali Tribune
Diposting : 26 July 2017 20:33
Djoko Purnomo - Bali Tribune
Ketut Suwandi
Ketut Suwandi

BALI TRIBUNE - Prestasi yang ditorehkan pecatur junior Bali di ajang Kejurnas Catur 2017, patut diacungi jempol. Selain itu, upaya Pengprov Percasi Bali memajukan cabor ini dengan menggali potensi pecatur junior, juga patut diapresiasi. Demikian disampaikan Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi.

“Saya harus mengakui keberhasilan cabang olahraga, dan sebaliknya wajib melakukan koreksi bila cabor yang mengikuti kejurnas atau event nasional lainnya gagal,” tegas Ketut Suwandi ditemui di ruang kerjanya, Selasa (25/7).

Khusus cabang catur, merupakan langkah paling awal menuju perbaikan, dengan potensi putra daerah hasil binaan dari dasar, mampu memperlihatkan hasilnya dan medali emas di tangan atas nama Putu Luhur Apngal Kusuma dari Buleleng. Sukses tersebut merupakan PR besar bagi Pengprov Percasi Bali untuk bisa dipertahankan pada kejuaraan junior berikutnya dan pada kategori dewasa.

Menurutnya, bercermin dari hasil multi event olahraga, yakni Pekan Olahraga Nasional (PON), tentu yang harus dipersiapkan adalah pecatur-pecatur yang berkaliber. Sayangnya Percasi Bali di kejurnas hanya mengutus seorang pecatur senior putra atas nama Master Nasional Octo Dami, kalah bersaing dengan pecatur-pecatur daratan Jawa.

Hasil tersebut membuktikan salah satu gambaran kekuatan pecatur Bali di kategori senior putra, sedangkan di senior putri absen. Dengan demikian Bali pun tidak bisa mengukur perkembangan kualitas pecatur putri di kategori senior putri.

“Bagaimana bisa mengetahui peningkatan kualitas pecatur senior putri kalau pemain top Bali tidak terlibat di event nasional, sebagai bentuk mengukur kematangan pecatur karena yang terlibat para atlet papan atas Pengprov Percasi se- Indonesia,” kata Suwandi.

Versi Suwandi, Percasi Bali harus selektif mengirim atlet. Ke depan harus membatasi mereka yang masuk kategori ranking 1 hingga 5 nasional yang diutus, sehingga secara internal Percasi Bali akan tumbuh kompetisi, tidak sekedar ramai-ramai memboyong pecatur ke tingkat nasional. Namun Suwandi juga tidak menutup mata keterlibatkan orang tua atlet dengan merogoh kocek di kantong sendiri membawa putranya mengikuti kejurnas.

“Ya, memang harus ada sinergis dengan orang tua atlet. Kalau mengandalkan KONI Bali tidak mampu mencakup seluruh keinginan Percasi,” ujarnya sembari menambahkan ke depan Percasi Bali harus konsentrasi mempersiapkan atlet senior atau yang berkualitas untuk digembleng dalam persiapan menuju Pra-PON, dengan tidak mengabaikan pendampingan pembinaan para junior yang telah memperlihatkan tanda-tanda menuju kualitas permainan.