BALIU TRIBUNE - Pembangunan gedung blok A Pasar Seni Ubud pasca kebakaran, yang kandas mendapatkan bantuan pusat di tahun 2017, Pemkab Gianyar pun ‘jegah’. Tidak tangung-tangung, anggaran sebesar Rp 18 miliar untuk tahuan 2018 digodok serius untuk menyulap gedung gosong itu menjadi lebih megah.
Kadisperindag Gianyar Wayan Suamba, Selasa (21/11), mengatakan, revitalisasi Gedung Blok A pasar Seni Ubud yang terbakar itu, tahuan 2017 sujatinya sudah masuk dalam tahap perencanaan. Karena itu, tahun 2018 pihaknya mengusulkan Rp 18 Miliar untuk pembangunan ulang dari nol. “Hingga saat ini sedang kami godok bersama di DPRD Gianyar,” ungkapnya.
Disebutkan, dengan anggaran Rp 18 Miliar tersebut, khusus untuk pembangunan blok A Pasar Ubud sebenarnya sangat mencukupi. Karena sesuai perencanaan di blok pasar yang terbakar pada Maret 2016 itu, nantinya bangunan yang dibuat yakni tiga lain, plus basemant sebagai areal parkir. Gedung yang rencananya akan dibangun itu pun tentunya lebih tinggi dari gedung yang terbakar sebelumnya yang hanya dua lantai, tanpa dilengkapi basemant.
Mengenai grand desain Pasar Seni Ubud yang terungkap dalam rapat Komisi II dengan Disperindag Gianyar. Suamba menuturkan bahwa grand desain tersebut mencakup semua bidang, tak hanya pada penataan Pasar Ubud. Tapi juga pada penataan infrastruktur lainnya, seperti trotoar, drainase, jalan, penataan sampah dan bidang lainnya. Dikatakan olehnya pula, bahwa grand desain Ubud itu pun belum dipastikan apakah sumber penataannya akan datang dari pemerintah pusat, provinsi atau Pemkab Gianyar.
Terlebiah grand desain Ubud ini juga terkait dengan pelaksanaan Konferensi Bank Dunia yang akan dilaksanakan di Bali. Dan Ubud ini seperti hasil rapat dengan Komisi II tadi juga akan menjadi salah satu tujuan dari ratusan delegasi dari ratusan negara.
Dalam rapat Komisi II dengan beberapa OPD itu, sejumlah hala juga menjadi sorotan dan masukan dari kalangan dewan. Seperti anggaran untuk grand desain Ubud, yang apakah akan dilakukan secara bertahap ataukah sekaligus dalam satu tahun. Seperti disampaikan Kadek Era Sukadana, anggota Komisi II yang menyoroti hancurnya infrastruktur di kawasan Ubud, seperti trotoar dan jalan. Padahal menurut dia, Ubud merupakan kawasan wisata dunia dan menjadi sumber PAD Gianyar.